Damian Lillard Menjadi Jauh Lebih Tenang di Portland. Damian Lillard, bintang basket Portland Trail Blazers, kembali menjadi sorotan di musim NBA 2025/2026 setelah menunjukkan perubahan sikap yang signifikan di lapangan dan di luar lapangan. Dikenal sebagai “Dame Time” karena kemampuan clutch-nya, Lillard kini tampil dengan aura yang lebih tenang dan terkendali, sebuah transformasi yang mengejutkan mengingat reputasinya sebagai pemain yang penuh gairah dan emosional. Setelah bertahun-tahun menghadapi tekanan sebagai pemimpin Blazers dan spekulasi tentang kemungkinan pindah ke tim lain, Lillard tampaknya telah menemukan kedamaian di Portland. Artikel ini mengulas faktor di balik ketenangan baru Lillard, dampaknya pada performa tim, dan apa yang bisa diharapkan dari sang superstar di musim ini.
Perubahan Sikap Lillard
Musim lalu, Lillard mencatatkan rata-rata 29,7 poin, 7,8 assist, dan 4,3 rebound per game, dengan akurasi tembakan tiga angka sebesar 39%. Namun, apa yang membuatnya berbeda di musim 2025/2026 adalah pendekatannya yang lebih santai. Dalam wawancara pasca-pertandingan melawan Denver Nuggets di laga pembuka, Lillard menyebutkan bahwa ia kini lebih fokus pada menikmati permainan daripada terbebani oleh ekspektasi. Ini kontras dengan musim-musim sebelumnya, di mana ia sering terlihat frustrasi karena kegagalan Blazers mencapai final Wilayah Barat.
Perubahan ini juga terlihat di luar lapangan. Lillard, yang sebelumnya kerap menanggapi spekulasi transfer dengan nada defensif, kini lebih sering tersenyum dan menghindari komentar yang memicu kontroversi. Ia juga aktif dalam kegiatan komunitas di Portland, seperti mengadakan kamp basket untuk anak-anak, menunjukkan kenyamanannya dengan kota yang telah menjadi rumahnya sejak 2012. Ketenangan ini diyakini berasal dari kontrak baru yang ditekennya hingga 2027, memberikan kepastian finansial dan stabilitas untuk fokus pada performa.
Faktor di Balik Ketenangan Lillard
Beberapa faktor berkontribusi pada transformasi Lillard. Pertama, kehadiran pelatih baru, Chauncey Billups, yang kembali menangani Blazers setelah masa singkat di LA Clippers, memberikan suasana segar di ruang ganti. Billups, mantan pemain dengan mentalitas juara, membantu Lillard mengelola tekanan dengan pendekatan yang lebih strategis. Kedua, tambahan pemain muda seperti Scoot Henderson dan Shaedon Sharpe memberikan kedalaman skuat, mengurangi beban Lillard sebagai satu-satunya penutup serangan. Henderson, dengan rata-rata 6,2 assist per game musim lalu, sering mengambil alih tugas playmaking, memungkinkan Lillard untuk fokus pada scoring.
Selain itu, Lillard tampaknya telah berdamai dengan kenyataan bahwa ia mungkin tidak akan meninggalkan Portland dalam waktu dekat. Setelah bertahun-tahun dikaitkan dengan tim seperti Miami Heat dan Los Angeles Lakers, Lillard kini menyatakan komitmennya untuk membawa Blazers ke kejayaan. Ketenangannya juga didukung oleh kehidupan pribadi yang stabil, dengan keluarganya yang tinggal di Portland memberikan dukungan emosional yang kuat.
Dampak pada Performa Blazers
Ketenangan Lillard berdampak positif pada Portland Trail Blazers. Dalam lima pertandingan awal musim ini, Blazers mencatatkan rekor 4-1, dengan Lillard memimpin dengan rata-rata 31,2 poin per game dan efisiensi tembakan 47%. Yang menarik, ia kini lebih sering melibatkan rekan setim, dengan assist-nya meningkat menjadi 8,1 per game dibandingkan musim lalu. Ini terlihat dalam kemenangan melawan Phoenix Suns, di mana Lillard mencatatkan 12 assist, termasuk umpan kunci untuk dunk Sharpe di kuarter terakhir.
Ketenangan Lillard juga menular ke skuat. Pemain muda seperti Henderson tampak lebih percaya diri, sementara veteran seperti Jerami Grant lebih konsisten dalam kontribusi defensif. Dengan pertahanan yang lebih baik—Blazers kini menempati peringkat 10 untuk defensive rating di NBA—tim ini mulai menunjukkan potensi sebagai penantang serius di Wilayah Barat, sesuatu yang belum mereka capai sejak final wilayah 2019.
Tantangan ke Depan: Damian Lillard Menjadi Jauh Lebih Tenang di Portland
Meski menunjukkan perkembangan positif, Lillard dan Blazers masih menghadapi tantangan. Persaingan di Wilayah Barat sangat ketat, dengan tim seperti Denver Nuggets, Oklahoma City Thunder, dan Phoenix Suns memiliki skuat yang lebih matang. Lillard, meski tenang, perlu menjaga konsistensi di laga-laga krusial, terutama di playoff, di mana Blazers sering tersingkir di babak pertama dalam tiga musim terakhir. Selain itu, risiko cedera tetap ada, mengingat Lillard telah bermain lebih dari 70 game dalam tiga musim terakhir.
Kesimpulan: Damian Lillard Menjadi Jauh Lebih Tenang di Portland
Transformasi Damian Lillard menjadi sosok yang jauh lebih tenang di Portland menjadi angin segar bagi Trail Blazers di musim NBA 2025/2026. Dengan dukungan pelatih Chauncey Billups, kedalaman skuat yang lebih baik, dan stabilitas pribadi, Lillard mampu fokus pada permainan tanpa beban ekspektasi berlebih. Dampaknya terlihat pada performa tim yang lebih solid dan chemistry yang meningkat di lapangan. Meski tantangan seperti persaingan ketat dan risiko cedera masih membayangi, ketenangan Lillard memberikan harapan bahwa Blazers bisa kembali bersaing di papan atas. Penggemar di Portland kini menantikan apakah “Dame Time” versi baru ini bisa membawa tim menuju kejayaan yang telah lama dinanti.