Luka Doncic Dianggap Sebagai Magic Johnson Kedua. Luka Doncic, bintang Dallas Mavericks, kembali menjadi sorotan di musim NBA 2025/2026 setelah penampilan gemilangnya di laga pembuka melawan Denver Nuggets pada 21 Oktober 2025, di mana ia mencatatkan triple-double dengan 34 poin, 12 rebound, dan 15 assist. Pemain asal Slovenia ini kini disebut-sebut sebagai “Magic Johnson kedua” oleh para analis dan penggemar karena gaya bermainnya yang serba bisa dan kemampuan memimpin tim layaknya seorang maestro di lapangan. Dengan Mavericks yang kini berada di posisi kedua klasemen Wilayah Barat, perbandingan dengan legenda Los Angeles Lakers ini semakin mengemuka. Apa yang membuat Doncic begitu spesial, dan bagaimana Magic Johnson menanggapi perbandingan ini? Yuk, kita ulas lebih dalam! BERITA LAINNYA
Siapa Luka Doncic
Luka Doncic adalah guard-forward berusia 26 tahun kelahiran Ljubljana, Slovenia, pada 28 Februari 1999. Ia memulai karier profesionalnya bersama Real Madrid di usia 16 tahun, menjadi pemain termuda yang memenangkan EuroLeague MVP pada 2018. Drafted oleh Atlanta Hawks sebagai pilihan ketiga pada 2018 dan langsung ditukar ke Dallas Mavericks, Doncic langsung mencuri perhatian dengan rata-rata 21,2 poin, 7,8 rebound, dan 6 assist di musim rookie-nya. Hingga Oktober 2025, ia telah mencatatkan 52 triple-double, mendekati rekor Magic Johnson di urutan ketujuh sepanjang masa NBA. Musim lalu, Doncic membawa Mavericks ke Final NBA, meski kalah dari Boston Celtics, dengan rata-rata 33,9 poin, 8,6 rebound, dan 9,4 assist per laga. Dengan tinggi 6 kaki 7 inci dan visi permainan luar biasa, ia menjadi salah satu pemain paling dominan di liga saat ini.
Mengapa Dia Bisa Disamakan Dengan Magic Johnson
Perbandingan antara Luka Doncic dan Magic Johnson muncul karena kesamaan dalam gaya bermain dan dampak mereka di lapangan. Magic, yang bermain pada 1979–1996 untuk Lakers, dikenal sebagai point guard setinggi 6 kaki 9 inci yang merevolusi posisi tersebut dengan kemampuan passing, pengambilan keputusan, dan kepemimpinan. Doncic, dengan tinggi dan gaya bermain serupa, juga berperan sebagai playmaker utama Mavericks, sering mencatatkan triple-double dengan kemampuan mencetak poin, mengatur serangan, dan mengambil rebound. Musim ini, ia rata-rata mencatatkan 2,8 umpan kunci per laga, mirip dengan puncak karier Magic. Keduanya juga punya kemampuan clutch, seperti saat Doncic mencetak game-winner melawan Clippers pada Mei 2025, mengingatkan pada momen ikonis Magic seperti “junior skyhook” di Final NBA 1987. Selain itu, Doncic dan Magic sama-sama mampu bermain di beberapa posisi, dari point guard hingga forward, memberikan fleksibilitas taktis. Bedanya, Doncic lebih sering mengandalkan tembakan tiga angka, dengan akurasi 34,4% musim lalu, sesuatu yang jarang dilakukan Magic di eranya.
Tanggapan Magic Johnson Atas Gaya Bermain Luka Doncic
Magic Johnson, yang kini aktif sebagai analis dan pengusaha, memberikan pujian setengah hati atas perbandingan dengan Doncic. Dalam wawancara pasca-laga pembuka Mavericks pada Oktober 2025, Magic menyebut Doncic sebagai “pemain luar biasa” yang punya visi permainan “seperti yang saya miliki dulu.” Ia memuji kemampuan Doncic mengatur tempo dan membuat rekan setimnya lebih baik, seperti saat ia mengatur pick-and-roll dengan Daniel Gafford untuk 12 assist melawan Nuggets. Namun, Magic juga menekankan bahwa perbandingan ini “belum sepenuhnya pas” karena Doncic belum memenangkan gelar NBA, sementara Magic punya lima cincin juara. Ia menyarankan Doncic untuk meningkatkan efisiensi tembakan (44,7% musim ini) dan memperkuat pertahanan, yang masih jadi kelemahan dibandingkan standar Magic di masa lalu. Meski begitu, Magic optimistis, menyatakan bahwa Doncic, di usia 26, “punya waktu untuk mencapai level legenda” jika terus berkembang dan membawa Mavericks juara.
Kesimpulan: Luka Doncic Dianggap Sebagai Magic Johnson Kedua
Julukan “Magic Johnson kedua” untuk Luka Doncic bukan sekadar sensasi, melainkan cerminan bakat luar biasanya sebagai playmaker serba bisa di NBA. Dengan visi permainan, kemampuan triple-double, dan kepemimpinan di lapangan, Doncic memang mengingatkan pada kehebatan Magic Johnson, meski dengan gaya modern yang kaya tembakan tiga angka. Pujian setengah hati dari Magic sendiri menunjukkan pengakuan atas talenta Doncic, sekaligus tantangan untuk meraih gelar demi menyamai legenda Lakers itu. Dengan Mavericks yang kini tampil solid dan Doncic yang terus memecahkan rekor, ia berada di jalur untuk membuktikan bahwa perbandingan ini bukan isapan jempol. Akankah Doncic membawa Mavericks meraih gelar pertama sejak 2011 dan mengukuhkan statusnya sebagai legenda baru? Perjalanan panjangnya di NBA pasti akan terus jadi sorotan, dan fans tak sabar menanti langkah berikutnya dari “Kid from Ljubljana” ini!